Bagaimana Cara Cerdas Minum Obat Saat Bulan Ramadhan?

Bagaimana Cara Cerdas Minum Obat Saat Bulan Ramadhan?

INSTALASI FARMASI RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

 

Ibadah puasa di bulan Ramadhan merupakan salah satu perintah wajib Allah SWT kepada para umat-Nya. Hal tersebut tertuang dalam Al-Quran surat Al-Baqarahayat 183.  “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Puasa berarti menahan diri dari makan dan minum serta segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari, dengan syarat tertentu, untuk meningkatkan ketakwaan seorang muslim. Banyak hikmah yang bisa kita peroleh saat ibadah puasa, salah satunya adalah melatih kesabaran dalam menjalani kehidupan. Betapa banyak ibadah dengan janji pahala berlipat ganda yang bisa kita lakukan di bulan suci Ramadhan bila kondisi tubuh kita prima.

Namun bagaimana jika tubuh kita dalam kondisi sebaliknya?

Orang yang sakit diperbolehkan untuk tidak berpuasa asalkan ada bukti medis (keterangan dari dokter), pengalaman, atau ia yakin bahwa puasa akan memberi suatu madharat, dapat memperparah penyakitnya atau memperlambat penyembuhannya. Namun seseorang yang menderita penyakit ringan tetaplah harus berpuasa dengan tetap meminum obat untuk menghilangkan penyakitnya.

            Obat merupakan suatu senyawa yang digunakan untuk tujuan pencegahan, diagnosis, dan penyembuhan penyakit. Obat akan memberikan khasiat apabila kadarnya stabil di dalam darah sehingga penggunaan obat harus disesuaikan dengan sifat fisika kimia masing-masing bahan obat. Di dalam tubuh, obat akan diserap, kemudian diedarkan oleh darah, tersedia dalam jumlah yang tepat di tempat kerjanya, dan pada akhirnya dibuang jika sudah lagi tidak digunakan.

Semakin cepat obat diserap dan dikeluarkan dari tubuh, kita harus semakin sering minum obat. Oleh karena itu, ada obat yang harus diminum 3 kali sehari, ada yang 2 kali sehari, bahkan ada yang satu minggu sekali atau 1 bulan sekali.

Bagaimana bila kita sedang berpuasa?

Waktu leluasa menggunakan obat yang biasanya 24 jam, berubah hanya menjadi 10,5 jam (dari saat berbuka hingga waktu subuh), sehingga harus diatur sedemikian rupa sehingga obat yang diminum tetap efektif dan bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit.

Berikut ini adalah panduan minum obat pada saat berpuasa:

  1. Obat dengan aturan pakai 3-4 kali sehari
  • Setelah makan:

Bila aturan pakai 3 kali sehari setelah makan, maka minumlah obat setelah makan berbuka puasa (jam 18.00), sebelum tidur (setelah menyantap sedikit makanan/jam 23.00) dan setelah makan sahur (jam 04.00).

Jika obat diminum 4 kali sehari maka waktunya dapat diberikan dalam interval 3-4 jam, yaitu pada pukul 18.00, pukul 22.00, pukul 01.00 dan pukul 04.00.

  • Sebelum makan:

Bila aturan pakai 3 kali sehari sebelum makan maka, minumlah obat setelah minum berbuka puasa (jam 18.00) lalu setengah jam sesudahnya barulah menikmati makanan berat. Penggunaan kedua saat hendak tidur (kira-kira jam 11 malam), tapi perut jangan diisi makanan setengah jam sebelumnya. Penggunaan obat ketiga minimal setengah jam sebelum makan sahur (jam 04.00).

Jika obat digunakan 4 kali sehari, maka interval waktunya sama seperti di atas.

  1. Obat dengan aturan pakai 2 kali sehari
  • Setelah makan:

Minumlah obat setelah makan berbuka puasa dan setelah makan sahur.

  • Sebelum makan:

Minumlah obat setelah minum berbuka puasa. Setengah jam  sesudahnya barulah menikmati makanan berat. Minum obat berikutnya minimal setengah jam sebelum makan sahur

  1. Obat dengan aturan pakai 1 kali sehari
  • Setelah makan

Kita bebas memilih setelah berbuka puasa atau saat sahur.

  • Sebelum makan

Kita bebas memilih setelah minum pembuka puasa (30 menit sebelum makan berat) atau 30 menit sebelum makan sahur.

Informasi beberapa macam obat:

  1. Obat antihipertensi

Obat antihipertensi kini sudah banyak diformulasi untuk pemakaian sekali dalam sehari. Jika dokter telah meresepkan antihipertensi semacam ini, lebih disarankan agar obat diminum saat makan sahur sehingga obat tersebut dapat mengendalikan tekanan darah selama beraktivitas di siang hari.

Riset menunjukkan bahwa tekanan darah mencapai angka paling tinggi pada pukul 9–11 pagi dan paling rendah pada malam hari setelah tidur. Oleh karena itu, sebaiknya obat antihipertensi diminum pada pagi hari. Perlu hati-hati jika obat anti hipertensi diminum malam hari karena mungkin terjadi penurunan tekanan darah yang berlebihan pada saat tidur.

  1. Obat maag

Jika dokter telah meresepkan obat yang hanya digunakan sekali dalam sehari, misalnya omeprazol, lansoprazol,  esomeprazol atau pantoprazol sebaiknya diminum pada malam hari sebelum tidur. Sedangkan obat maag yang lazimnya diberikan sehari dua kali, misalnya ranitidin, cimetidin atau famotidin, maka hendaknya dipilih saat malam hari sebelum tidur dan pada waktu makan sahur. Hal ini disebabkan asam lambung mencapai kadar paling tinggi pada saat dini hari, sehingga sebaiknya diminum malam hari untuk mencegah kenaikan asam lambung berlebihan.

  1. Obat antidiabetes

Obat antidiabetes yang hanya cukup diminum satu kali dalam sehari, misalnya glimepirid, glibenklamid atau glipizid sebaiknya digunakan pada saat berbuka puasa untuk mengontrol kadar gula dalam darah, karena pada saat tersebut ada kecenderungan kadar gula dalam darah akan meningkat berlebihan.

Namun apabila obat antidiabetes anda diresepkan dua kali dalam sehari, misalkan metformin, lebih disarankan untuk diminum saat berbuka puasa dan malam hari sebelum tidur. Hindari penggunaan obat-obat antidiabetes pada saat makan sahur agar tidak terjadi keadaan hipoglikemia pada saat berpuasa pada siang harinya.

Pada pasien yang menggunakan insulin premix atau aksi sedang 2 kali sehari, perlu dipertimbangkan perubahan ke insulin aksi panjang atau sedang pada sore hari dan insulin  aksi pendek bersama makan.

  1. Obat penurun kolesterol

Obat penurun kolesterol (simvastatin, atrovastatin atau rosuvastatin) paling baik diminum pada pukul 7-9 malam atau saat menjelang tidur malam, karena memberikan efek lebih baik.

  1. Obat dengan indeks terapetik sempit dan antibiotik

Obat dengan indeks terapi sempit seperti theophylin, digoxin, phenytoin dan beberapa antibiotik sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter yang meresepkan. Jika dokter memberikan obat dengan pemakaian 3 atau 4 kali sehari, tanyakan apakah ada alternatif obat sejenis yang bisa diminum 1 atau 2 kali sehari.

  1. Obat asma

Pasien asma dengan penggunaan inhaler secara teratur dapat menggunakan inhalernya pada saat setelah waktu buka puasa dan pada saat sahur. Namun jika diperlukan penggunaan inhaler pada saat serangan akut di siang hari, pasien dapat membatalkan puasanya.

Penggunaan obat yang tidak membatalkan puasa:

  1. Obat tetes mata
  2. Obat tetes telinga, tetes hidung atau alat hirup melalui hidung, jika masuknya zat ke dalam kerongkongan bisa dihindari
  3. Alat-alat kesehatan atau cairan yang digunakan untuk membersihkan (antiseptik), untuk kontrasepsi (IUD) atau untuk pembuangan
  4. Injeksi atau obat suntik untuk pengobatan kulit, otot, sendi atau vena kecuali cairan infus atau injeksi zat makanan
  5. Gas oksigen
  6. Anestesi lokal
  7. Suppositoria, rektal tube dan ovula
  8. Obat kumur, sejauh tidak tertelan
  9. Zat yang diserap melalui kulit seperti plester, minyak gosok, salep, krim, dll.

Referensi:

Kapan Minum Obat Bila Sedang Puasa, Pelayanan Informasi Obat RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta

Kapan Minum Obat Jika Sedang Puasa, Unit Layanan Informasi Obat dan Makanan Universitas Airlangga, http://food-drugs-info.blogspot.com, diakses tanggal 5 Juli 2013

Kapan Waktu Minum Obat yang Tepat?, http://zulliesikawati.wordpress.com, diakses tanggal 5 Juli 2013

Jika Harus Minum Obat Ketika Puasa http://muslimah.or.id, diakses tanggal 5 Juli 2013

Bagaimana Cara Menggunakan Obat di Bulan Ramadhan, http://haloapoteker.id diakses tanggal 8 Mei 2017

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: