Vaksin Difteri, Tak Kenal Maka Tak Sayang

Vaksin Difteri, Tak Kenal Maka Tak Sayang

Disusun oleh :

Pelayanan Informasi Obat (PIO) RS Bethesda Yogyakarta (Januari, 2018)

 

Belum lama ini marak beredar di media massa, berita mengenai munculnya wabah difteri yang dapat dikatakan hampir sudah tidak pernah muncul di Indonesia. Apa itu difteri? Penyakit yang berbahaya, mungkin itu kesan pertama yang timbul di benak kita ketika melihat pemberitaan di media. Namun sebelum menimbulkan kepanikan yang tidak perlu, mari kita cermati lebih dahulu apa itu difteri, gejala penyakit yang timbul, dan tentu saja bagaimana cara pencegahan yang bisa kita lakukan untuk menghindari difteri.

Apa itu difteri?

Difteri merupakan jenis penyakit menular yang tersebar di seluruh dunia. Penyakit difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diptheriae strain toksin.  Tanda dan gejala penyakit difteri  berupa infeksi saluran pernafasan akut bagian atas, adanya nyeri pada tenggorokan, rasa nyeri untuk menelan, demam tidak tinggi (kurang dari 38°C), dan dapat ditemukan selaput putih/keabuan/kehitaman di tonsil, saluran tenggorokan, atau saluran pencernaan bagian atas yang tak mudah lepas, serta berdarah bila diangkat. Difteri  dapat tertular melalui percikan ludah dari batuk, bersin, muntah, melalui alat makan, atau kontak langsung dari lesi di kulit (Anggraeni, et al., 2017).

Lalu, bagaimana kita mencegah terkena difteri?

Difteri dapat dicegah dengan melaksanakan imunisasi lengkap, dengan jadwal pemberian sesuai usia. Ada tiga macam vaksin untuk imunisasi rutin dan lanjutan pencegahan difteri :

  1. DPT-HB-Hib (vaksin kombinasi mencegah Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis B, Meningitis dan Pneumonia yang disebabkan oleh Haemophylus influenza tipe B)
  2. DT (vaksin kombinasi Difteri Tetanus)
  3. Td (vaksin kombinasi Tetanus Difteri)

 

Tabel 1. Jadwal Pemberian Imunisasi

No

Usia Imunisasi Difteri Vaksin yang tersedia di Indonesia
 

Imunisasi Dasar

1

Bayi pada usia 2,3, dan 4 bulan

Vaksin DPT-Hb-Hib

Pentabio  DTP-Hb-Hib (PT. Biofarma), Hexaxim (), Infanrix hexa ()

 

Imunisasi Lanjutan

2

Anak usia 18 bulan

Vaksin DPT-Hb-Hib

Pentabio  DTP-Hb-Hib (PT. Biofarma)

3

Anak SD kelas 1

Vaksin DT pada bulan imunisasi anak sekolah (BIAS)

Vaksin Jerap DT (PT. Biofarma)

4

Anak SD kelas 2 dan 5

Vaksin Td pada BIAS

Vaksin Jerap Td (PT. Biofarma)

5

Wanita usia subur (termasuk wanita hamil)

Vaksin Td

Vaksin Jerap Td (PT. Biofarma)

(Anggraeni, et al., 2017)

 

Sekilas tentang Vaksin Difteri

Tak kenal maka tak sayang. Pepatah kuno ini menggambarkan bahwa pengetahuan yang kurang tepat terkait vaksin dan vaksinasi mempengaruhi minat masyarakat dalam melakukan vaksinasi, terutama di era digital seperti saat ini.

Vaksin berasal dari bahasa latin vacca (sapi) dan vaccinia (cacar sapi). Vaksin adalah bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi oleh organisme alami atau liar (Biofarma, 2017).

Vaksin dapat berupa galur virus atau bakteri yang telah dilemahkan sehingga tidak menimbulkan penyakit. Vaksin dapat juga berupa organisme mati atau hasil pemurniannya (protein, peptida, partikel serupa virus, dsb.). Vaksin akan mempersiapkan sistem kekebalan manusia atau hewan untuk bertahan terhadap serangan patogen tertentu, terutama bakteri, virus, atau toksin. Vaksin juga bisa membantu sistem kekebalan untuk melawan selsel degeneratif (kanker) (Biofarma, 2017).

Pemberian vaksin diberikan untuk merangsang sistem imunologi tubuh untuk membentuk antibodi spesifik sehingga dapat melindungi tubuh dari serangan penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin. Ada beberapa jenis vaksin. Namun, apa pun jenisnya tujuannya sama, yaitu menstimulasi reaksi kekebalan tanpa menimbulkan penyakit (Biofarma, 2017).

Menurut World Health Organization (WHO, 2011), cara yang paling efektif dalam upaya mencegah terjangkitnya penyakit difteri adalah dengan meningkatkan kegiatan imunisasi di masyarakat. Terdapat 2 jenis imunisasi difteri yaitu imunisasi aktif dan pasif.

Imunisasi aktif difteri yang digunakan yaitu Diphteria Toxoid . Vaksin difteri berasal dari Diphteria Toxoid, yaitu toksin bakteri yang telah dimodifikasi sehingga dapat menginduksi perlindungan dari antitoksin yang dihasilkan. Diphteria Toxoid tersedia dalam bentuk kombinasi bersama dengan tetanus toxoid (T), dalam bentuk DT (untuk digunakan pada usia dibawah 7 tahun) atau Td (untuk digunakan pada usia 7 tahun keatas), atau dikombinasikan dengan vaksin tetanus dan pertusis dalam bentuk DTaP/DPT atau Tdap. Diphteria Toxoid juga dapat dikombinasikan dengan tambahan antigen vaksin, seperti polio (IPV), hepatitis B, dan Haemophilus influenzae type b (WHO, 2017).

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC, 2016), terdapat 4 jenis kombinasi vaksin untuk difteri yang digunakan saat ini, yaitu:

  1. Diphtheria and tetanus (DT) vaccines
  2. Diphtheria, tetanus, and pertussis (DTaP) vaccines
  3. Tetanus and diphtheria (Td) vaccines
  4. Tetanus, diphtheria, and pertussis dalam bentuk aseluler (Tdap) vaccine

Vaksinasi difteri dianjurkan untuk semua bayi, anak-anak, remaja, dan orang dewasa. DTaP dan DT diberikan kepada anak-anak di bawah usia 7 tahun, sedangkan Tdap dan Td diberikan kepada anak-anak 7 tahun keatas dan orang dewasa.

Imunisasi pasif melalui difteri antitoksin (DAT) yang berasal dari hewan kuda, DAT sangat manjur dalam mengobati difteri, meski bukan merupakan pengganti imunisasi aktif yang menggunakan Diphteria Toxoid seperti yang telah dipaparkan sebelumnya. Meskipun demikian, antitoksin merupakan salah satu bentuk pengobatan yang penting untuk mengatasi difteri dan dapat mengurangi morbiditas serta mortalitas. DAT harus diberikan sesegera mungkin setelah onset penyakit, begitu toksinnya memasuki sel inang maka bakteri penyebab difteri tidak dapat terpengaruh oleh antitoksin (WHO, 2017).

Vaksinasi  Difteri merupakan salah satu vaksin wajib atau biasa disebut dengan imunisasi dasar yang harus diperoleh setiap bayi yang baru lahir. Jadwal pemberian imunisasi telah di jabarkan pada Tabel 1. Salah satu hal yang perlu juga diketahui oleh masyarakat usia dewasa (> 19 tahun) terutama yang belum mendapatkan imunisasi sama sekali atau yang tidak memiliki data yang jelas terkait imunisasi dasar yang pernah diperoleh adalah terkait jadwal imunisasi difteri untuk dewasa.

Berikut ini merupakan rekomendasi jadwal vaksinasi Difteri bagi usia 19 tahun keatas menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC, 2017).

 

Tabel 2. Jadwal Vaksinasi Difteri Bagi Usia 19 Tahun ke Atas

Vaksin 19-21 tahun 22-26 tahun 27-59 tahun 60-64 tahun ≥65 tahun
Td/Tdap Pemberian Tdap satu kali, kemudian pemberian booster Td setiap 10 tahun

Informasi Umum

  1. Orang dewasa yang belum menerima tetanus dan Diphteria Toxoid dan vaksin pertusis aselular (Tdap) atau seseorang dengan status vaksinasi pertusis yang tidak diketahui harus menerima 1 dosis Tdap diikuti booster tetanus dan difteri (Td) setiap 10 tahun. Tdap harus diberikan terlepas dari kapan vaksin tetanus atau difteri yang mengandung toxoid terakhir diterima.
  2. Orang dewasa dengan riwayat vaksinasi primer/imunisasi dasar dengan vaksin yang mengandung toksin tetanus dan difteri, yang tidak mencakup 1 dosis Tdap. Orang dewasa yang belum divaksinasi sama sekali harus menerima 2 dosis pertama minimal dengan jarak 4 minggu dan dosis ketiga 6-12 bulan setelah dosis kedua.

Populasi khusus

Wanita hamil harus menerima 1 dosis Tdap di setiap kehamilan, sebaiknya pada bagian awal minggu kehamilan ke 27-36, terlepas dari riwayat menerima Tdap sebelumnya.

 

Tabel 3. Vaksin difteri yang tersedia di Indonesia

No Nama Vaksin Penyakit yang Dicegah Usia Pemberian
1. Vaksin DTP-Hb-Hib penyakit Difteri, Tetanus, Pertusis, Hepatitis B, Haemophylus Influenzae tipe B Untuk usia 2,3,4 bulan atau 2,4,6 bulan. Maksimal 5 tahun
2. Vaksin Jerap DT Mencegah penyakit difteri dan tetanus Vaksin ulangan/booster untuk usia dibawah 7 tahun
3. Vaksin Jerap Td Mencegah tetanus dan difteri Diberikan 1x sebagai ulangan/booster, untuk usia diatas 7 tahun.
4. Vaksin Tdap Mencegah penyakit tetanus, difteri dan pertusis Diberikan untuk anak usia diatas 7 tahun dan dewasa

(Biofarma, 2017).

 

Apakah Perbedaan DTaP, Tdap, DT dan Td ?

Ada 4 jenis kombinasi dari vaksin difteri yang dipaparkan sebelumnya diantaranya DTaP, Tdap, DT, dan Td. Istilah-istilah ini bisa jadi menyebabkan kebingungan pada Anda. Berikut adalah penjelasan singkat terkait perbedaan dari masing-masing kombinasi vaksin difteri tersebut. Diambil dari lembar informasi terkait vaksin difteri oleh WHO tahun 2014, perbedaan didasarkan pada usia pemberian vaksin dan jumlah kandungan dari masing-masing komponen vaksin kombinasi tersebut. Kedua vaksin yaitu DTaP dan DT diberikan kepada anak-anak di bawah usia 7 tahun dan untuk dua lainnya Tdap dan Td diberikan untuk anak usia 7 tahun keatas atau dewasa. Seperti yang ditunjukkan oleh huruf kecil “d” dan “p”, konsentrasi difteri dan pertusis toxoid telah dikurangi dalam formulasi “dewasa” untuk mencegah efek samping, sementara “a” dalam “ap” menunjukkan bahwa pertusis toxoid ada dalam bentuk aselular.

Efektivitas Vaksin

Dengan mendapatkan dan melengkapi imunisasi, kita telah selangkah lebih dini mencegah bahaya difteri. Hal ini dibuktikan dengan penelitian yang berhasil di review oleh WHO tahun 2017, efektivitas pemberian 3 atau lebih dosis vaksin yaitu sebesar 98,2 %. Penelitian lain dalam review yang sama melaporkan efektivitas pemberian 3 dosis vaksin atau lebih yaitu sebesar 96,9%, dan akan meningkat sampai 99% dengan pemberian 5 atau lebih dosis vaksin. Selain imunisasi pada masa kanak-kanak (dan remaja), WHO saat ini merekomendasikan agar orang-orang dewasa yang tinggal di daerah endemis rendah atau non-endemik juga memerlukan suntikan booster vaksin Diphteria Toxoid dalam interval sekitar 10 tahun untuk mempertahankan waktu perlindungan vaksin.

Selalu konsultasikan rencana vaksinasi Anda kepada tenaga kesehatan di pelayanan kesehatan terdekat Anda.

 

Tips Mencegah Penularan Penyakit Difteri

  1. Etika Batuk dan Bersin

Cara penularan penyakit yang berada di saluran pernapasan beberapa diantaranya adalah melalui percikan ludah, batuk, dan bersin. Oleh karena itu perlu diketahui bagaimana cara batuk dan bersin dengan benar agar mencegah penularan penyakit-penyakit saluran pernafasan yang salah satunya adalah Difteri.

     2. Etika Meludah

Cara terbaik untuk menghindari penularan penyakit yang berasal dari saluran pernafasan salah satunya adalah dengan menerapkan PHBS dalam kehidupan kita sehari-hari dan janganlah membuat air ludah atau saliva secara sembarangan karena saliva merupakan salah satu media penularan penyakit-penyakit yang berbahaya. Berikut adalah etika dalam meludah yang dapat mulai dibudayakan dalam kehidupan sehari-hari. Apabila hendak membuang saliva atau meludah dapat dilakukan di tempat seperti pembuangan air, westafel, closet, atau menggunakan tisu yang langsung dibuang pada tempat sampah (Piogama, 2017).

     3. Enam Langkah Cuci Tangan yang Baik dan Benar

Mencuci tangan sangat penting dalam mencegah penularan penyakit yang diakibatkan oleh infeksi kuman penyakit yang menempel di telapak tangan. Berikut dua cara mencuci tangan yang baik dan benar menurut WHO.

     4. Pola hidup sehat dan kebersihan diri serta lingkungan

 

Tips Hidup Sehat Agar Terhindar dari Difteri

Tidak akan lengkap rasanya, bila Anda sudah melakukan imunisasi lengkap tanpa diimbangi dengan gaya hidup sehat. Berikut 12 tips hidup sehat yang dibagikan oleh WHO, yang dapat Anda terapkan agar terhindar dari penyakit.

Berikut adalah hal-hal sederhana yang dapat Anda lakukan untuk memulai hidup sehat, berdasarkan dari tips yang diberikan oleh WHO diatas, antara lain:

  1. Memakan menu makanan sehat. Tentu saja kita sudah tidak asing dengan menu makanan seimbang 4 sehat 5 sempurna, dengan memenuhi kecukupan karbohidrat, protein, mineral dan protein akan meningkatkan kesehatan dan daya imun tubuh
  2. Minum air putih minimal 8 gelas setiap hari agak tubuh terhindar dari dehidrasi
  3. Melakukan vaksinasi termasuk salah satunya vaksinasi untuk penyakit Difteri
  4. Melakukan aktivitas fisik setiap harinya dan melakukan olahraga secara teratur. Olahraga dapat berupa jogging atau lari pagi, jalan santai, bersepeda, senam, dan lain sebagainya. Melakukan olahraga dan aktivitas fisik secara rutin dapat meningkatkan kesehatan dan imunitas tubuh.
  5. Menghindari alkohol, tidak merokok, dan menghindari asap rokok. Alkohol tidak baik bagi tubuh salah satunya dapat menyebabkan kerusakan hati dan merokok dapat merusak sistem pernapasan tubuh.
  6. Managemen stress. Penyakit juga dapat disebabkan karena stress. Oleh karena itu, ada baiknya untuk dapat mengelola stress dalam tubuh dengan cara refreshing baik dengan jalan-jalan, berlibur bersama keluarga, olahraga, berkumpul dengan teman-teman dan lain sebagainya.
  7. Istirahat yang cukup dan hindari begadang. Tubuh memerlukan waktu untuk melakukan proses pengeluaran racun-racun dalam tubuh (detoksifikasi), sehingga berilah tubuh kesempatan melakukan proses tersebut saat kita tidur di malam hari.
  8. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
  9. Melakukan cek kesehatan secara berkala.

Salah satu hal yang paling penting untuk diketahui oleh masyarakat luas adalah kesadaran untuk melakukan vaksinasi secara mandiri. Bila Anda merasa tinggal atau bekerja di lokasi dengan resiko paparan penyakit yang tinggi, contohnya adalah tinggal di lokasi endemi, bekerja di rumah sakit, dan lain-lain, maka ada baiknya untuk Anda memiliki inisiatif mengkonsultasikan kondisi Anda dan melakukan vaksinasi di fasilitas kesehatan kepercayaan Anda. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Kalau tidak inisiatif Anda, siapa lagi?

 

 

Sumber :

Anggraeni, N.D., Yosephine, P., Umar, A.N., Mazanova, D., Handini, S., Et Al. , 2017, Pedoman Pencegahan Dan Pengendalian Difteri, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, Hal. 9

Biofarma, 2017, Jenis Imunisasi, http://www.biofarma.co.id/for-healthcare-professional/jenis-dan-jadwal-imunisasi/. Diakses pada 10 Januari 2018.

Centers For Disease Control And Prevention, 2017, Adult Immunization Schedule: Recommended Immunization Schedule For Adults Aged 19 Years Or Older, By Vaccine And Age Group, https://www.cdc.gov/vaccines/schedules/hcp/imz/adult.html. Diakses pada 9 Januari 2018.

Centers For Disease Control And Prevention, 2016, Diphtheria Vaccination : One Of The Recommended Vaccines By Disease, https://www.cdc.gov/vaccines/vpd/diphtheria/index.htm. Diakses pada 9 Januari 2018.

Centers For Disease Control And Prevention, 2016, Cover Your Cough : Stop The Spread Of Germs That Can Make You And Others Sick!, https://www.cdc.gov/flu/protect/covercough.htm. Diakses pada 9 Januari 2018.

Piogama UGM, 2017, Stop Jangan Meludah Sembarangan, http://piogama.ugm.ac.id/stop-jangan-meludah-sembarangan/ . Diakses pada 9 Januari 2018.

World Health Organization, 2014, Information Sheet Observed Rate Of Vaccine Reactions Diphtheria, Pertussis, Tetanus Vaccines, http://www.who.int/vaccine safety/initiative/tools/dtp vaccine rates information sheet.pdf. Diakses pada 10 Januari 2018.

World Health Organization, 2017, Diphtheria Vaccine : Review Of Evidence On Vaccine Effectiveness And Immunogenicity To Assess The Duration Of Protection ≥10 Years After The Last Booster Dose, http://www.who.int/immunization/sage/meetings/2017/april/2 review diphtheria results april2017 final clean.pdf. Diakses Pada 9 Januari 2018.

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: