Manajemen dan Tatalaksana Difteri di Rumah Sakit

Manajemen dan Tatalaksana Difteri di Rumah Sakit

Instalasi Farmasi RS Bethesda Yogyakarta

Definisi, Etiologi, dan Gejala

Difteri adalah penyakit akut yang disebabkan dari toksin bakteri gram positif Corynebacterium diptheriae (CDC, 2017). Produksi toksin hanya terjadi bila bakteri itu sendiri terinfeksi (tersensifikasi) oleh virus tertentu (bakteriofag) yang membawa informasi genetik untuk toksin. Hanya strain toxigenik yang bisa menyebabkan penyakit parah (CDC, 2015).

Difteri ditandai dengan adanya peradangan pada tempat infeksi, terutama pada selaput mukosa faring, laring, tonsil, hidung dan juga pada kulit. Penularan terjadi secara droplet (percikan ludah) dari batuk, bersin, muntah, melalui alat makan, atau kontak langsung dari lesi di kulit. Tanda dan gejala berupa infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) bagian atas, adanya nyeri tenggorok, nyeri menelan, demam tidak tinggi (kurang dari 38,5° C), dan ditemui adanya pseudomembrane putih/keabu-abuan/kehitaman di tonsil, faring, atau laring yang tak mudah lepas, serta berdarah apabila diangkat (Kemenkes, 2017).

Jumlah kasus difteri di Indonesia sedikit meningkat pada tahun 2016 jika dibandingkan dengan tahun 2015 (529 kasus pada tahun 2015 dan 591 pada tahun 2016). Demikian pula jumlah Kabupaten/Kota yang terdampak pada tahun 2016 mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan jumlah Kabupaten/ Kota pada tahun 2015. Tahun 2015 sebanyak 89 Kabupaten/ Kota dan pada tahun 2016 menjadi 100 Kabupaten/ Kota. Sejak vaksin toxoid difteri diperkenalkan pada tahun 1940an, maka secara global pada periode tahun 1980 – 2000 total kasus difteri menurun lebih dari 90% (Kemenkes, 2017).

Program Imunisasi Difteri

Imunisasi DPT di Indonesia dimulai sejak tahun 1976 dan diberikan 3 kali, yaitu pada bayi usia 2, 3, dan 4 bulan. Selanjutnya imunisasi lanjutan DT dimasukkan ke dalam program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) pada tahun 1984. Untuk semakin meningkatkan perlindungan terhadap penyakit difteri, imunisasi lanjutan DPT-HB-Hib mulai dimasukkan ke dalam program imunisasi rutin pada usia 18 bulan sejak tahun 2014, dan imunisasi Td menggantikan imunisasi TT pada anak sekolah dasar  (Kemenkes, 2017).

Tatalaksana Difteri

Pengobatan difteri terdiri atas pemberian antitoksin difteri, antibiotik, dan tatalaksana pencegahan bagi orang di sekitar penderita. Berikut algoritma tatalaksana difteri untuk tersangka difteri dan kontak terinfeksi.

  1. Dokter memutuskan diagnosis difteria berdasarkan gejala dan klinis.

     2. Pada kasus difteri tatalaksana dimulai dengan pemberian Anti Difteri Serum (ADS) dan antibiotik tanpa perlu konfirmasi laboratorium (kultur baik swab/apus tenggorok).

     3. Penderita difteria diisolasi sampai tidak menular yaitu 48 jam setelah pemberian antibiotik. Namun tetap dilakukan kultur setelah pemberian antibiotik.

     4. Untuk pemberian ADS kepada penderita maka perlu dikonsultasikan dengan dokter spesialis (anak, THT, penyakit dalam).

     5. Tatalaksana pada penderita difteri dewasa sama dengan tatalaksana penderita difteri anak, yaitu sebagai berikut:

         a. Pemberian Anti Difteri Serum (ADS)

            1) Secepat mungkin diberikan setelah melakukan tes hipersensitivitas terhadap ADS; pemberian antitoksin secara dini sangat penting dalam hal kesembuhan.

            2) Sebelum pemberian ADS harus dilakukan uji kulit terlebih dahulu, oleh karena pada pemberian ADS dapat terjadi reaksi anafilaktik, sehingga harus disediakan larutan adrenalin 1:1000 dalam semprit.

            3) Uji kulit dilakukan dengan penyuntikkan 0,1 ml ADS dalam larutan garam fisiologis 1:1.000 secara intrakutan. Hasil positif bila dalam 20 menit terjadi indurasi > 10 mm.

            4) Bila uji kulit positif, ADS diberikan dengan cara desensitisasi (Besredka).

            5) Bila uji hipersensitivitas tersebut di atas negatif, ADS harus diberikan sekaligus secara intravena.

            6) Dosis ADS ditentukan secara empiris berdasarkan berat penyakit dan lama sakit, tidak tergantung pada berat badan penderita, berkisar antara 20.000-100.000 KI.

            7) Pemberian ADS intravena dalam larutan garam fisiologis atau 100 ml glukosa 5% dalam 1-2 jam.

       8) Pengamatan terhadap kemungkinan efek samping obat dilakukan selama pemberian antitoksin dan selama 2 jam berikutnya. Demikian pula perlu dimonitor terjadinya reaksi hipersensitivitas lambat (serum sickness).

          9) Kemungkinan terjadi reaksi anafilaksis sekitar 0,6% yang terjadi beberapa menit setelah pemberian ADS. Reaksi demam (4%) setelah 20 menit-1 jam, serum sickness (8,8%) 7-10 hari kemudian.

        b. Menegakkan diagnosis melalui kultur bakteri yang tepat

        c. Pemberian antibiotika

Antibiotika penicillin procaine IM 25.000-50.000 U/kg BB maks 1,5 juta selama 14 hari, atau eritromisin oral atau injeksi diberikan 40 mg/KgBB/hari maks 2 g/hari interval 6 jam selama 14 hari.

      d. Perawatan suportif termasuk perhatian khusus untuk mempertahankan patensi saluran napas bila terdapat membran laring atau faring ekstensif. Lakukan penilaian apakah ditemukan keadaan gawat napas akibat obstruksi saluran napas karena membran dan edema perifaringeal maka lakukan trakeostomi.

        e. Observasi jantung ada/tidaknya miokarditis, gangguan neurologis, maupun ginjal

       f. Kortikosteroid dapat diberikan kepada penderita dengan gejala obstruksi saluran nafas bagian atas, dan bila terdapat penyulit miokarditis diberikan prednison 2 mg/KgBB selama 2 minggu kemudian diturunkan bertahap.

        g. Pada fase konvalesens diberikan vaksin difteri toksoid disesuaikan status imunisasi penderita.

Pemulangan Penderita

Beberapa hal harus diperhatikan untuk pemulangan penderita difteri klinik, yaitu:

  1. Setelah pengobatan tetap dilakukan pengambilan kultur pada penderita (sebaiknya pada hari ke 8 dan ke 9 pengobatan).
  2. Apabila klinis penderita setelah terapi baik (selesai masa pengobatan 10 hari), maka dapat pulang tanpa menunggu hasil kultur laboratorium.
  3. Sebelum pulang penderita diberi penyuluhan komunikasi risiko dan pencegahan penularan oleh petugas.
  4. Setelah pulang, penderita tetap dipantau oleh Dinas Kesehatan setempat sampai mengetahui hasil kultur terakhir negatif.
  5. Semua penderita setelah pulang harus melengkapi imunisasi nya sesuai usia.
  6. Penderita yg mendapat ADS harus diimunisasi lengkap 3x setelah 4-6 minggu dari saat ADS diberikan.

Pencegahan dan Pengendalian Infeksi dalam Perawatan Penderita Difteri.

Cara penularan difteri adalah melalui droplet dan kontak. Dalam memeriksa/ merawat penderita difteri klinik, direkomendasikan sebagai berikut:

  1. Tenaga kesehatan yang memeriksa/ merawat Penderita Difteri harus sudah memiliki imunisasi lengkap.

     2. Bila penderita dirawat, tempatkan dalam ruang isolasi (single room/ kohorting), tidak perlu ruangan dengan tekanan negatif.

     3. Lakukan prinsip kewaspadaan standar, gunakan Alat Pelindung Diri (APD) sebagai kewaspadaan isolasi berupa penularan melalui droplet sebagai berikut:

         a. Pada saat memeriksa tenggorok penderita baru gunakan masker bedah, pelindung mata, dan topi.

       b. Apabila dalam kontak erat dengan penderita (jarak <1 meter), menggunakan masker bedah juga harus menggunakan sarung tangan, gaun, dan pelindung mata (seperti: google, face shield)

         c. Pada saat pengambilan specimen menggunakan masker bedah, pelindung mata, topi, baju pelindung, dan sarung tangan

         d. Apabila melakukan tindakan yang menimbulkan aerosolisasi (misal: saat intubasi, bronkoskopi, dll) dianjurkan untuk menggunakan masker N95.

         e. Pembersihan permukaan lingkungan dengan desinfektan (chlorine, quaternary ammonium compound, dll)

     4. Terapkan etika batuk, baik pada tenaga kesehatan maupun masyarakat.

     5. Apabila terdapat tanda dan gejala infeksi respiratori atas untuk menggunakan masker, termasuk di tempat tempat umum.

     6. Bagi penderita yang harus didampingi keluarga, maka penunggu penderita harus menggunakan APD (masker bedah dan gaun) serta melakukan kebersihan tangan.

DAFTAR PUSTAKA

 Centers For Disease Control And Prevention, 2015, Epidemiology and Prevention of Vaccine-Preventable Diseases (The Pinkbook) Chapter: 7 Diptheria

 https://www.cdc.gov/vaccines/pubs/pinkbook/dip.html. Diakses pada 22 Januari 2018.

https://www.cdc.gov/diphtheria/index.html. Diakses pada 22 Januari 2018.

Centers For Disease Control And Prevention, 2017, Manual for the Surveillance of Vaccine-Preventable Diseases Chapter 1: Diptheria, https://www.cdc.gov/vaccines/pubs/surv-manual/chpt01-dip.html, diakses pada 22 Januari 2018.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2017, Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Difteri.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: