KONSELING PADA PASIEN GERIATRI

Oleh : apt . Martina Nur Laeli, S Farm

Rumah Sakit Nur Rohmah Gunungkidul

Pelayanan informasi obat sangat diperlukan, terlebih lagi banyak pasien yang belum mendapatkan informasi obat secara memadai tentang obat yang digunakan, karena penggunaan obat yang tidak benar dan ketidakpatuhan meminum obat bisa membahayakan. Pelayanan informasi obat berupa konseling ditujukan untuk meningkatkan hasil terapi dengan memaksimalkan penggunaan obat-obatan yang tepat. Salah satu manfaat dari konseling adalah meningkatkan kepatuhan pasien dalam penggunaan obat, sehingga angka kematian dan kerugian (baik biaya maupun hilangnya produktivitas) dapat ditekan (Tumiwa dkk., 2014)

 Penggolongan warga usia lanjut dalam Undang-Undang no. 13/1998 tentang Kesejahteraan Usia lanjut adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun atau lebih. Pada usia tersebut terjadi proses penuaan yang bersifat universal antara lain kemunduran dari fungsi biosel, jaringan, organ, bersifat progesif, perubahan secara bertahap, akumulatif, dan intrinsik. Proses penuaan mengakibatkan terjadinya pembahan pada berbagai organ di dalam tubuh seperti sistem gastrointestinal, sistem genitourinaria, sistem endokrin, sistem immunologis, sistem serebrovaskular, sistem saraf pusat dan sebagainya. Berdasarkan uraian tersebut perlu dilakukan penyesuaian terhadap terapi pengobatan pada pasien usia lanjut. Farmakokinetika dan farmakodinamika pada pasien geriatri akan berbeda dari pasien muda karena beberapa hal, yakni terutama akibat perubahan komposisi tubuh, perubahan faal hati terkait metabolisme obat, perubahan faal ginjal terkait ekskresi obat serta kondisi multipatologi.

A. Perubahan farmakokinetik

Usia yang semakin bertambah dapat meningkatkan terjadinya akiorhidria (berkurangnya produksi asam lambung). Hal tersebut mempengaruhi obat-obat yang absorbsinya dipengaruhi oleh keasaman lambung sebagai contoh ketokonazol, flukonazol, indometasin, tetrasiklin dan siprofloksasin.

Distribusi obat

Sesuai pertambahan usia maka akan terjadi perubahan komposisi tubuh yaitu terjadi peningkatan komposisi lemak tubuh. Keadaan tersebut akan sangat mempengaruhi distribusi obat di dalam plasma. Distribusi obat larut lemak (lipofilik) akan meningkat dan distribusi obat larut air (hidrofilik) akan menurun. Konsentrasi obat hidrofilik di plasma akan meningkat karena jumlah cairan tubuh menurun. Dosis obat hidrofilik mungkin harus diturunkan sedangkan interval waktu pemberian obat lipofilik mungkin harus dijarangkan. Kadar albumin dan a1 -acid glycoprotein juga dapat mempengaruhi distribusi obat dalam tubuh.

Tinggi rendahnya kadar albumin terutama berpengaruh pada obat-obat yang afinitasnya terhadap albumin memang cukup kuat seperti naproxen. Kadar naproxen bebas dalam plasma sangat dipengaruhi oleh afinitasnya pada albumin. Pada kadar albumin normal maka kadar obat bebas juga normal; pada kadar albumin yang rendah maka kadar obat bebas akan sangat meningkat sehingga berbahaya efek samping menjadi lebih besar.

Faal hepar

Massa hepar berkurang setelah seseorang berumur 50 tahun; aliran darah ke hepar juga berkurang. Secara umum metabolisme obat di hepar (biotransformasi) terjadi di retikulum endoplasmik dengan bantuan enzim mikrosom. Biotransformasi biasanya mengakibatkan molekul obat menjadi lebih polar sehingga kurang larut dalam lemak dan mudah dikeluarkan melalui ginjai. Reaksi kimia yang terjadi dibagi dua yaitu reaksi oksidatif (fase 1) dan reaksi konyugasi (fase 2). Reaksi fase satu biasanya terganggu dengan bertambahnya umur, gaya hidup tidak sehat dan penyakit yang diderita pasien. Keadaan-keadaan tersebut dapat mengakibatkan kecepatan biotransformasi obat berkurang dengan kemungkinan terjadinya peningkatan efek toksik obat.

Faal ginjal

 Fungsi ginjai akan mengalami penurunan sejalan dengan pertambahan umur. Menurunnya GFR pada usia lanjut maka diperlukan penyesuaian dosis obat. Pemberian obat pada pasien geriatri tanpa memperhitungkan faal ginjal sebagai organ yang akan mengekskresikan sisa obat akan berdampak pada kemungkinan terjadinya akumulasi obat yang pada akhirnya bisa menimbulkan efek toksik. Patokan penyesuaian dosis juga dapat diperoleh dari informasi tentang waktu paruh obat (t ½) contohnya : antipyrine, distribusi plasma menurun, clearance juga menurun sehingga hasil akhir t ½ tidak berubah. Sebaliknya pada obat flurazepam, terdapat sedikit peningkatan volume distribusi dan sedikit penurunan clearance maka hasil akhirnya adalah meningkatnya waktu paruh yang cukup besar.

B. PERUBAHAN FARMAKODINAMIKA

Perubahan farmakodinamik dipengaruhi oleh degenerasi reseptor obat di jaringan yang mengakibatkan kualitas reseptor berubah atau jumlah reseptornya berkurang. Warfarin: perubahan farmakokinetik tak ada, maka perubahan respon yang ada adalah akibat perubahan farmakodinamik. Sensitivitas yang meningkat adalah akibat berkurangnya sintesis faktor-faktor pembekuan pada usia lanjut. Nitrazepam: perubahan respons juga terjadi tanpa perubahan farmakokinetik yang berarti. Hal ini menunjukkan bahwa pada usia lanjut sensitivitas terhadap nitrazepam memang meningkat. Lebih lanjut data menunjukkan bahwa pemberian diazepam intravena pada pasien usia lanjut memerlukan dosis yang lebih kecil dibandingkan pasien dewasa muda, selain itu efek sedasi yang diperoleh memang lebih kuat dibandingkan pada usia dewasa muda. Triazolam: pemberian obat ini pada warga usia lanjut dapat mengakibatkan postural swaynya bertambah besar secara signifikan dibandingkan dewasa muda. Sensitivitas obat yang berkurang pada usia lanjut juga terlihat pada pemakaian obat propranolol. Penurunan frekuensi denyut nadi setelah pemberian propranolol pada usia 50 – 65 tahun ternyata lebih rendah dibandingkan mereka yang berusia 25 – 30 tahun.

C. KARAKTERISTIK LAIN YANG BERKAITAN DENGAN TERAPI OBAT

Pada kelompok pasien berusia lanjut juga terjadi apa yang disebut sebagai multipatologi; satu pasien menderita beberapa penyakit. Kondisi akut yang teijadi pada seseorang dengan berbagai penyakit kronik degeneratif acap kali menambah daftar obat yang harus dikonsumsi pasien. Pada beberapa situasi memang jumlah obat yang diberikan kepada pasien bisa lebih dari dua macam(polifarmas). Hal ini terkait dengan multipatologi yang merupakan salah satu karakteristik pasien geriatri. Semakin banyak obat yang diberikan maka semakin besar pula risiko untuk terjadinya efek samping; dan yang lebih berbahaya lagi adalah bertambah pula kemungkinan terjadinya interaksi di antara obat-obat tersebut.

Kegiatan konseling obat dilakukan oleh tenaga profesi dalam hal ini Apoteker yang mempunyai kompetensi dalam pemberian konseling obat. Apoteker yang melaksanakan kegiatan konseling harus memahami baik aspek farmakoterapi obat maupun teknik berkomunikasi dengan pasien. Dalam mewujudkan pelayanan konseling yang baik maka kemampuan komunikasi harus ditingkatkan agar terjalin komunikasi yang efektif dan intensif antara apoteker dengan pasien khususnya pasien geriatri.

Strategi komunikasi yang dapat dipakai oleh apoteker dalam melaksanakan konseling adalah sebagai berikut:

  1. Membantu dengan cara bersahabat: Pasien yang pasif akan mempersulit apoteker untuk membuat kesepakatan dan memberikan bantuan pengobatan. Sangat penting bagi apoteker untuk menciptakan suasana yang bersahabat dengan pasien, ini akan mempengaruhi suasana hati pasien dan pasien menjadi percaya kepada apoteker. Apoteker dapat memulai konseling dengan menyapa pasien dengan namanya, memperkenalkan diri, memberikan sedikit waktu untuk pembicaiaan umum sebelum memulai pembicaraan tentang pengobatan. Selama konseling berlangsung maka apoteker harus mendengarkan dengan sungguh-sungguh setiap perkataan pasien. Selain itu apoteker juga harus memperhatikan bahasa tubuhnya agar pasien merasa lebih dihargai.
  2. Menunjukkan rasa empati pada pasien Sangat penting adanya perasaan empati pada pasien selama sesi konseling dilakukan. Ketika apoteker menunjukkan rasa empati maka pasien akan merasa apoteker peduli kepadanya. Penting bagi apoteker untuk tahu tentang kebutuhan pasien, ketertarikan pasien, motivasi, tingkat pendidikan agar dapat disesuaikan dengan informasi yang akan diberikan oleh apoteker. Menunjukkan rasa empati berarti bahwa komunikasi berjalan dengan baik.
  3. Kemampuan nonverbal dalam berkomunikasi

Ada beberapa kemampuan nonverbal yang sangat membantu keberhasilan konseiing antara apoteker dan pasien, yaitu :

  • Senyunan dan wajah yang bersahabat, apoteker harus menunjukkan perasaan yang bahagia saat akan melakukan konseiling, karena ekspresi wajah apoteker akan mempengamhi suasana hati pasien.
  • Kontak mata, kontak mata langsung boleh terjadi 50% sampai 75% selama sesi konseiling.
  • Gerakan tubuh, hams dilakukan seefektif mungkin. Jika terlalu berlebihan kadang akan mempengamhi mood pasien. Sentuhan pada pasien juga kadang dibutuhkan untuk membuarnya merasa tenang.
  • Jarak antara apoteker dan pasien, jarak yang terlalu jauh membuat komunikasi menjadi tidak efektif, begitu juga dengan jarak yang terlalu dekat. Sehinggga posisi dan jarak duduk antara apoteker dan pasien diatur agar pasien merasa nyaman.
  • Intonasi Suara, selama komunikasi berlangsung intonasi suara apoteker hams diperhatikan. Suara yang terlalu pelan atau keras membuat komunikasi menjadi tidak efektif.
  • Penampilan apoteker yang bersih dan rapih membuat pasien merasa lebih nyaman.

Alat Bantu Konseling

Agar konseling menjadi lebih efektif ada beberapa alat bantu yang dapat digunakan. Alat bantu yang digunakan terdiri dari perlengkapan yang diperlukan oleh apoteker sebagai konselor dalam melakukan konseling maupun alat bantu yang diberikan kepada pasien. Perlengkapan Apoteker dalam melaksanakan konseling :

  1. Panduan konseling, berisi daftar (check list) untuk mengingatkan Apoteker point-point konseling yang penting.
  2. Kartu Pasien, berisi identitas pasien dan catatan kunjungan pasien
  3. Literatur pendukung
  4. Brosur tentang obat-obat tertentu, memberikan kesempatan kepada pasien untuk membaca lagi jika lupa.
  5. Alat peraga, dapat menggunakan audiovisual, gambar-gambar, poster, maupun sediaan yang berisi placebo.
  6. Alat komunikasi untuk mengingatkan pasien untuk mendapatkan lanjutan pengobatan.2

Alat bantu yang diberikan kepada pasien

Alat bantu pengingat pasien minum obat biasanya diperlukan pada pengobatan penyakit kronis atau penyakit-penyakit lain yang membutuhkan terapi jangka panjang memerlukan kepatuhan dalam penggunaannya. Misalnya: penggunaan analgesik untuk nyeri kanker, penggunaan obat anti TBC, penggunaan obat anti retroviral, terapi stroke, diabetes, dll. Alat bantu yang diberikan berupa:

  1. Kartu pengingat pengobatan, kartu ini diberikan Apoteker kepada pasien untuk memantau penggunaan obat pasien. Pasien dapat memberikan tanda pada kartu tersebut setiap harinya sesuai dengan dosis yang diterimanya. Kartu tersebut memuat nama pasien, nama obat, jam minum obat, tanggal pasien hams mengambil (refill) obat kembali.
  2. Pemberian Label, sebagian pasien membutuhkan bantuan untuk membaca label instruksi pengobatan yang terdapat pada obamya.
  3. Medication chart, bempa bagan waktu minum obat. Biasanya dibuat untuk pasien dengan regimen pengobatan yang kompleks atau pasien yang sulit memahami regimen pengobatan.
  4. Pil dispenser, akan membantu pasien untuk mengingat jadwal minum obat dan menghindari kelupaan jika pasien melakukan perjalanan jauh dari rumah. Wadah pil dispenser bisa untuk persediaan harian maupun mingguan.
  5. Kemasan penggunaan obat per dosis unit, pengemasan obat per unit dosis membutuhkan peralatan yang mahal. Dapat dilaksanakan jika regimen pengobatan terstandar dan mempakan program pemerintah.

Daftar Pustaka

Tumiwa, N.G, Paulina V.Y. Yamlean, Gayatri Citraningtyas,. 2014. Pelayanan Informasi Obat Terhadap Kepatuhan Minum Obat Pasien Geriatri Di Instalasi Rawat Inap Rsup Prof. Dr. R.D. Kandou.PHARMACON Jurnal Ilmiah Farmasi UNSRAT Vol. 3 No. 3:Manado.

Undang-undang No. 13 Tahun 1998 Tentang Kesejahteraan Lanjut Usia

Departemen Kesehatan Rl.2004. Pedoman Pelayanan Farmasi (Tata Laksana Terapi Obat) Untuk Pasien Geriatri. Direktorat Jenderal Pelayanan Kefarmasian Dan Alat Kesehatan:Jakarta

Departemen Kesehatan Rl.2004. Pedoman Konseling Pelayanan Kefarmasian Dl Sarana Kesehatan. Direktorat Jenderal Pelayanan Kefarmasian Dan Alat Kesehatan:Jakarta

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: