Kemoterapi Oral : Apa yang perlu pasien ketahui?

apt. Mustaruddin, M.Sc, apt. Ninisita Srihadi, M.Sc

Instalasi Farmasi RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

Edukasi pasien pada awal menggunakan obat kemoterapi oral merupakan bagian yang penting dalam memandu pasien terkait adherence/ kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat. Pendidikan pasien adalah kunci untuk memastikan penanganan yang aman dari agen kemoterapi oral. Kemoterapi oral mengalami peningkatan penggunaan selama 1 dekade terakhir (Aust Prescr, 2013). Kemoterapi oral tidak hanya terbatas pada pasien kanker saja, tetapi juga digunakan untuk kondisi lain, seperti rheumatoid arthritis dan penyakit autoimun lain, misalnya penggunaaan methothrexate untuk rheumatoid arthritis.

Hal-hal utama edukasi yang perlu disampaikan kepada pasien adalah :

  1. Penyimpanan dan  penanganan
  2. Pembuangan obat kemoterapi oral.
  3. Penggunaan secara bersama obat kanker dan obat/ tindakan perawatan suportif.
  4. Penanganan efek samping.
  5. Interaksi obat-obat dan interaksi obat-makanan.
  6. Rencana saat terlewat minum obat.

Penyimpanan dan Penanganan Obat Kemoterapi Oral

Pasien harus mengetahui persyaratan penyimpanan obat kemoterapi oral yang baik agar menjamin kualitas obat yang akan digunakan. Sebagian besar obat kemoterapi oral dapat disimpan pada suhu kamar (15° hingga 30°C) dan beberapa obat kemoterapi oral harus terlindung dari cahaya. Hal-hal penting yang harus disampaikan saat edukasi pasien yaitu:

  • Obat kemoterapi oral harus selalu dijauhkan dari jangkauan anak-anak dan hewan peliharaan.
  • Obat kemoterapi oral tidak boleh dikunyah, dihancurkan, dipotong, atau dilarutkan.
  • Dianjurkan agar pasien yang menggunakan obatnya sendiri. Namun, jika pasien tidak bisa melakukan sendiri maka keluarga/ pengasuh dapat menyiapkan obatnya dan disarankan untuk mengenakan sarung tangan pada proses penyiapannya. Alternatif lain dengan menuangkan obat kemoterapi oral ke dalam wadah atau tutup botol obat, kemudian menuangkan obat ke dalam tangan atau mulut pasien. Wadah yang digunakan harus dibersihkan dengan sabun dan air. Selanjutnya melakukan langkah-langkah berikut :
    • Cuci tangan dengan sabun dan air.
    • Letakkan pada tangan yang telah menggunakan sarung tangan untuk menghindari menyentuh obat secara langsung. Penggunaan sarung tangan tidak perlu jika Anda akan memberikan obat untuk diri sendiri.
    • Secara lembut keluarkan obat dari bungkusnya.
    • Minumlah obat dengan air.
    • Sarung tangan dibuang dan jangan digunakan untuk yang lain.
  • Jika pasien menyimpan obat dalam kotak tablet harian (pill-box), maka kotak tersebut hanya digunakan untuk obat kemoterapi oral dan harus dicuci dengan sabun dan air ketika perawatan telah selesai.

Pasien, apoteker, dan perawat harus selalu mencuci tangan dengan sabun dan air setiap kali terjadi kontak dengan agen kemoterapi oral.

Pembuangan Limbah Obat Kemoterapi Oral

Obat kemoterapi oral meskipun diberikan secara per oral juga bersifat sitotoksik, sehingga untuk penanganan limbahnya diperlukan perlakuan khusus, harus dibuang dengan benar. Pembuangan agen kemoterapi oral yang tepat dapat membantu menjaga orang sekitar tetap aman dan melindungi lingkungan. Limbah sitotoksik dapat berupa segala bahan yang bersentuhan dengan obat sitotoksik selama penyimpanan, penanganan, persiapan, administrasi, dan pembuangannya.

Limbah sitotoksik dapat berupa bahan pengemas; peralatan pelindung; bahan habis pakai untuk persiapan seperti jarum suntik, tabung obat, kantong obat, linen pasien yang terkena cairan tubuh pasien (urin, feses, cairan muntah); saringan awal-hepafilter; dan sebagainya. Limbah sitostatika harus dibakar pada suhu tinggi (800-1200°C, tergantung produk). Kemoterapi oral akan berada dalam tubuh pasien selama beberapa saat atau beberapa hari setelah diminum pasien yang mungkin akan tersimpan dalam urin, feses, keringat, atau muntahan. Untuk menjaga keamanan orang sekitar dan lingkungan, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:

  1. Wanita hamil harus menghindari menyentuh apa pun yang mungkin terkontaminasi dengan cairan tubuh dari pasien.
  2. Toilet dan sistem pembuangan (septic tank), pasien dapat menggunakan toilet dan saluran pembuangan (septic tank) yang sama tetapi lubang kloset ditutup dan toilet disiram dua kali untuk memastikan semua limbah telah dibuang. Jika toilet atau dudukan toilet menjadi kotor dengan air seni, tinja, atau muntahan, permukaan dibersihkan sebelum orang lain menggunakan toilet.
  3. Jika Pasien membutuhkan pispot, pastikan keluarga atau pemberi perawatan mengenakan sarung tangan untuk membantu pembersihan dan pispot dicuci dengan sabun dan air setiap hari.
  4. Jika Pasien tidak memiliki kontrol yang baik atas BAB dan BAK, sebaiknya menggunakan underpad atau popok sekali pakai untuk menyerap limbah tubuh.
  5. Cuci setiap kulit yang telah terkena limbah tubuh atau obat dengan sabun dan air.
  6. Linen atau pakaian yang kotor dengan cairan tubuh harus dicuci secara terpisah dari pakaian lainnya. Jika tidak memiliki mesin cuci, linen yang kotor diletakkan dalam kantung plastik hingga akan dicuci.
  7. Selalu cuci tangan dengan sabun dan air setelah menggunakan toilet ataupun menyentuh linen atau pakaian yang mungkin kotor dengan cairan tubuh.

Penggunaan Secara Bersama Obat Kanker dan Obat Lain

Obat kemoterapi oral tak hanya digunakan sebagai terapi tunggal, tapi juga digunakan bersamaan, misal dengan steroid, seperti melphalan dengan deksametason atau prednison, ataupun kombinasi dengan obat kemoterapi oral lain, seperti (lapatinib dan letrozole). Kemampuan tiap pasien untuk memahami/ mengingat penjelasan Apoteker berbeda-beda, sehingga perlu dirancang alat edukasi untuk membantu pasien. Sebagai contoh, kalender sebagai alat untuk pengingat waktu memulai dan menghentikan kemoterapi oral, misalnya kalender untuk obat capecitabine dengan aturan minum 2 minggu dikonsumsi dan 1 minggu libur, kemudian diulang lagi dengan aturan waktu yang sama.

Penanganan Efek Samping

Nah, apa saja yang perlu kita lakukan jika menemukan pasien yang mengalami efek samping setelah mengkonsumsi obat kemoterapi oral? Obat kemoterapi oral memiliki efek samping yang unik untuk setiap kategori obat. Sebagai contoh, beberapa kemoterapi oral dapat menyebabkan myelosuppression dalam beberapa minggu pertama terapi. Kondisi myelosuppression bisa ditandai dengan terjadinya anemia, trombositopenia, leukopenia, atau neutropenia sehingga pemeriksaan darah lengkap sebaiknya dilakukan secara berkala dan pasien dapat memperhatikan jika muncul kondisi tersebut.

Selain itu, penurunan fungsi hati yang ditandai dengan terjadinya peningkatan enzim transaminase juga perlu kita perhatikan pada pasien pengguna obat kemoterapi oral karena merupakan salah satu efek samping yang serius. Pasien mungkin memerlukan pemantauan enzim transaminase setidaknya setiap dua minggu untuk dua hingga tiga bulan pertama pengobatan.

Efek samping umum lainnya dari kemoterapi oral yang mungkin terjadi adalah mual, muntah, diare, sariawan, dan ruam kulit. Informasikan pada pasien jika pasien mengalami keluhan tersebut agar menghubungi dokter atau apoteker sehingga dapat mengurangi kekhawatiran dan dapat meningkatkan kepatuhan dalam penggunaaan obat tersebut.

Interaksi Obat-Obat dan Interaksi Obat-Makanan

Efektifitas obat kemoterapi oral dapat dipengaruhi oleh obat lain, maupun makanan, baik obat bebas maupun obat yang diresepkan bersama dengan obat kemoterapi oral tersebut. Kelompok obat yang dapat memengaruhi kadar obat kemoterapi oral dalam darah adalah golongan penginduksi dan penginhibisi enzim CYP3A, CYP2D6 dan CYP2C9. Golongan penginduksi dapat mengurangi kadar kemoterapi oral dalam darah sementara golongan penginhibisi dapat meningkatkan kadar kemoterapi oral dalam darah, sehingga perlu ada penyesuaian dosis, aturan minum, hingga penghentian obat yang menyebabkan interaksi.

Pasien yang menggunakan antikoagulan membutuhkan pemantauan ketat. Tingkat INR (International Normalized Ratio) dapat dipengaruhi oleh beberapa kemoterapi oral (misal, Capecitabine) dan harus dipantau lebih sering dalam beberapa minggu pertama pengobatan, jika diperlukan. Pasien hendaknya menginformasikan kepada ahli onkologi ketika mereka diresepkan obat golongan antibiotik, seperti : erythromycin, ciprofloxacin, dan clarithromycin. Hal ini dikarenakan golongan obat tersebut merupakan penginhibisi enzim. Antasid dan inhibitor pompa proton dapat mengganggu penyerapan kemoterapi oral. Saat penggunaan capecitabine, antasid hendaknya dijeda selama dua jam sebelum dan sesudah pemberian capecitabine.

Demikian juga, pasien harus dididik tentang makanan apa yang harus dihindari saat menjalani kemoterapi oral. Grapefruit (atau di Indonesia dikenal sebagai jeruk limau gedang), jus grapefruit, dan produk grapefruit, serta belimbing dan jeruk bali adalah inhibitor CYP3A dan harus dihindari ketika pasien menggunakan obat kemoterapi oral yang berinteraksi dengan inhibitor CYP3A. Pasien harus berhenti makan buah-buahan ini sebelum dimulainya kemoterapi oral dan selama beberapa minggu setelah kemoterapi oral selesai. St. John’s Wort juga merupakan penginduksi CYP3A dan harus dihindari ketika sedang menjalani kemoterapi oral.

Rencana Saat Terlewat Minum Obat

Pasien perlu memahami apa yang harus dilakukan jika mereka lupa minum obat. Untuk obat dengan frekuensi pemberian tiap 12 jam, apabila obat kemoterapi terlewat diminum kurang dari waktu 6 jam dari waktu minum yang seharusnya, maka pasien harus segera meminam obat yang terlewat tersebut. Jika lebih dari 6 jam, maka obat yang terlewat tersebut tidak perlu diminum. Untuk obat dengan frekuensi pemberian tiap 24 jam, apabila obat kemoterapi terlewat diminum kurang dari waktu 12 jam dari waktu minum yang seharusnya, maka pasien harus segera meminum obat yang terlewat tersebut. Jika lebih dari 12 jam, maka obat yang terlewat tersebut tidak perlu diminum. Hal penting yang harus diingat, kita harus menghindari dosis berlebihan.

Daftar Pustaka

  1. Carrington, C., 2013, Safe Use Of Oral Cytotoxic Medicines, Aust Prescr, 36:9–12.
  2. BC Cancer Agency, 2017, Handling Cancer Drugs and Body Fluids in the Home.
  3. Huff, C., 2020, Oral Chemotherapy: Safe Handling in the Home, DNP Qualifying Manuscripts, 18.
  4. https://www.accc-cancer.org/docs/Documents/oncology-issues/articles/ND14/nd14-oral-chemotherapy-what-your-patients-need-to-know
  5. https://hospitalpharmacyeurope.com/news/editors-pick/management-of-myelosuppression-in-cancer-patients/

2 thoughts on “Kemoterapi Oral : Apa yang perlu pasien ketahui?

    • 27 Maret 2021 pada 5:31 AM
      Permalink

      Dalam handling sitostatika, semua petugas harus terlatih dan mempunyai sertifikat. Untuk review resep/ permintaan pencampuran sesuai kewenangannya dilakukan oleh apoteker. Dalam melakukan review/telaah permintaan pencampuran dilakukan review thd kompatibilitas, klinis dll, yg tdk bisa dipelajari dari pelatihan handling. TTk tdk mempunyai kewenangan melakukan hal tsb.

      Balas

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: