Corona Nowadays

Oleh apt. Runtas Listiana Dewi, S.Farm

Berbicara tentang corona, memang tiada habisnya. Sudah hampir setahun  kita menghadapi pandemi ini. Jumlah infeksi Covid-19 di dunia WHO (World Health Organisation) per tanggal 26 oktober  2020 sudah mencapai 43 juta kasus dengan lebih dari satu juta kematian. Dr Maria Van kerkhove selaku Pimpinan Teknis Covid-19 WHO mengibaratkan bahwa corona telah membunuh 10 kapasitas penuh dari stadion sepak bola.  Indonesia sendiri sampai saat ini telah mencatat hampir empat puluh ribu kasus positif corona dan lebih dari 13.000  diantaranya meninggal dunia.  Covid-19 bukan hanya sekedar angka, pandemi ini berdampak terhadap integritas bangsa Indonesia baik ekonomi, politik, sosial budaya, ketahanan nasional dan lainnya. Lamanya semua proses ini membuat masyarakat sepertinya mulai bosan dan bertanya- tanya kapan akhir dari pandemi ini. Tidak ada yang dapat memastikan kapan berakhirnya masa sulit ini, pemerintah juga masih berusaha mencari solusi bagaimana new normal yang telah diberlakukan  dapat terwujud dengan sebaik- baiknya. Alangkah pentingnya kita tetap waspada dan mengetahui perkembangan dari Covid-19.

Munculnya Klaster Keluarga

Klaster keluarga yg belakangan hangat di perbincangkan turut menyumbang kasus di Indonesia. Di lansir dari ‘pandemic talk’ , klaster keluarga terjadi saat anggota keluarga terinfeksi virus, lalu menularkan ke anggota keluarga lainnya sehingga satu rumah tangga tertular Covid-19 saat berada di rumah sendiri. Jika transmisi ini telah masuk ke unit society terkecil yang mana adalah keluarga. Segala kebijakan, protokol dan sistem monitoring yang diterapkan pemeritah, tempat publik dan perusahaan tidak bisa menahan transmisi virus ke lingkungan terkecil. Masyarakat kebanyakan berpikir bahwa rumah merupakan tempat paling aman dari ancaman Covid-19 sehingga cenderung mengabaikan protokol kesehatan yang telah diberlakukan, sehingga tanpa disadari anggota keluarga yang merasa sehat membawa virus dari luar ke dalam rumahnya sendiri.

Covid-19 dan Lansia

Menurut Pimpinan teknis Covid-19 WHO, dr. Maria Van kerkhove Corona Virus dan hubungannya dengan lansia tergantung dimana wilayah dan interaksi fisik. Beberapa negara yang sudah dapat mengatasi Covid-19 masyarakatnya dapat membuka diri, para lansia dapat berinteraksi dengan cucu mereka dengan perasaan aman. Akan tetapi,  di Indonesia, corona masih belum dinyatakan undercontrol dan penularannya masih cukup intens. Orangtua usia lanjut memang paling beresiko untuk terinfeksi Covid-19. Mengingat banyak dari para lansia memiliki daya tahan tubuh yang lebih rentan serta penyakit penyerta yang mungkin dapat memperparah  gejala infeksi Covid-19. Kita pasti tidak ingin memberi mereka paparan dari manapun sumbernya. Maka kita butuh penanganan atau pencegahan yang berdasar pada resiko penularan.  Dr. Mike Ryan menambahkan, di dalam komunitas dengan transmisi yang tinggi dan kita tidak yakin dimana virus itu berada, setidaknya salah satu anggota harus ekstra hati-hati. Orang dengan usia lebih dari 65 tahun harus berpikir dua kali untuk menempatkan diri mereka ke lingkungan yang mana dapat meningkatkan resiko tertular Covid-19. Dan mungkin menjadikan pertimbangan mereka dalam membatasi kontak meskipun dengan anggota keluarga sendiri.

Protokol Ventilasi-Durasi- Jarak (VDJ) di Lingkungan Rumah

Setiap rumah memiliki faktor resiko penularan COVID-19 yang berbeda, seperti kondisi kesehatan, jumlah orang di dalam keluarga, jumlah orang yang tinggal satu atap, luas tempat tinggal, dsb.

Walapun sulit untuk benar- benar menghilangkan kemungkinan paparan virus Covid-19, setiap keluarga setidaknya dapat meminimalisir risiko penularan dengan memperhatikan faktor VDJ di rumah.

  1. Ventilasi : Buka jendela  dan pintu agar udara segar dapat masuk  dan mengalir ke dalam rumah
  2. Durasi : Sediakan kamar terpisah jika ada anggota keluarga yang harus bekerja di luar rumah dan kurangi interaksinya dengan anggota yang rentan
  3. Jarak : Jika memungkinkan anggota keluarga yang bekerja di luar rumah diharapkan menjaga jarak dan menggunakan masker di sekitar keluarga lainnya khususnya lansia atau balita.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: